Mar 20 2008

How to protect your creative ideas?

Published by Naratama under Uncategorized

Ide Kreatif anda dicontek?Konsep anda dicolong? Judul acara nama anda dibajak? Ini persoalan klasik yang sering kita hadapi dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Contek menyontek konsep acara televisi menjadi santapan lezat para produser/penulis skenario/konseptor program/programer stasiun/Sutradara televisi/dan para profesional yang sedang “hilang kreativitas” atau memasuki “titik jenuh berkreatiftas”. Mereka secara sengaja maupun tidak sengaja terpaksa menghalalkan pembajakan terhadap berbagai ide-ide acara produksi lokal maupun internasional demi dan atas nama
kreativitas.Dan ini kadangkala bukan semata kesalahan mereka, itu terpaksa dan dipaksa terjadi karena persaingan industri yang super ketat dimana napas berkreatifitas dipacu dengan rating dan profit.
Lalu dimana aturan dan perlindungan hak cipta? bagaimana dengan copy
right?
Tips dibawah ini mudah2xan dapat membantu anda untuk mem”protect”
diri anda sendiri dari para plagiator kreatifitas:
1.Just “Copy Write” it!
Tulis nama anda didalam konsep atau naskah atau sinopsis atau proposal atau dll bahwa andalah yang menulis skenario/membuat dan mengkonsepkan ide tersebut. Jangan anda ragu melakukan hal ini, kalau ide dicetuskan bersama tulislah nama2x orang yang bersama2x membuat konsep tersebut. Ini adalah “Copy Write” anda alias penegasan bahwa Hak Cipta itu sepenuhnya milik anda sebelum adanya “deal”. Dan siapapun yang membaca nama tersebut akan mengerti
bahwa andalah yang mempunyai hak ciptanya.

2. Trade Mark and Patent
Kalau di Amerika Serikat berlaku pendaftaran hak cipta untuk dilegalkan pada The US trademark and patent. Lembaga ini dapat langsung mempatenkan hak cipta anda sehingga anda mempunyai trade-mark yang dapat anda perjualbelikan pada siapapun yang berminat. Proses ini berlangsung sangat mudah dan siapapun dapat mempatenkan karya ciptanya. Kalau di Indonesia memang ada lembaga hukum yang dapat melegalisasi atau mempatenkan karya cipta anda, namun menurut pengalaman, belum jelas bagaimana mempatenkan karya cipta acara televisi/konsep kreatif ide pembuatan film. Yang ada baru nama/logo saja. Tapi nggak ada salahnya anda mencoba mempatenkan di Indonesia.

3. Signing the Letter of Copy Write” before the presentation
Ini pengalaman pribadi saja. Karena beberapa kali ide saya diambil begitu saja setelah saya melakukan presentasi didepan klien, maka saya dan tim melakukan “Surat Perjanjian Hak Cipta” dengan klien yang isinya bahwa ide yang dipresentasikan adalah milik saya dan tidak dapat digunakan oleh klien sebelum ada persetujuan dalam pembelian karya kreatif. Tidak semua klien setuju, bahkan ada yang tersinggung, tapi ini lebih baik daripada ide anda dibajak begitu saja tanpa permisi. Dan, ini menunjukkan bahwa anda adalah seorang profesional.

4. Public recognation.
Informasikan dan publikasikan karya anda kepada publik melalui media cetak/tv/radio/internet, seminar, workshop, maupun dari obrolan antar teman. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan pengakuan publik bahwa ide kreatif karya berasal dari anda. Kalau ada orang lain menjiplak atau membuat kemiripan, anda sudah memenangkan hati publik. Publik akan mengatakan “itukan menjiplak karya anda….”

Tips pertama dan kedua saya rangkum dari tulisan Michelle Kaminsky lulusan Temple University School of Law yang menulis di legalzoom.com dan majalah Create Magazine-Spring 2006. Sedangkan tips ketiga dan keempat adalah rangkuman dari pengalaman pribadi dalam setiap membuat dan mempresentasikan konsep/ide kepada klien.
Ada tambahan dari teman2x? atau ada kritikan? Semoga tips ini
berguna untuk kita semua….
Jabat Erat
Naratama

5 responses so far

Mar 01 2008

“Camera Command” dalam Breakdown Skenario

Published by Naratama under Penulis Skenario

Hi all.

Sebelumnya kita sudah mengupas teknik penulisan Sitkom yang dikaji dari tulisan pakar skenario/penulis skenario Cosby Show, Evan Smith dalam bukunya “Writing Television Sitcom”. Buku ini sangat menarik karenaberbagai teknik gaya penulisan yang sukses ditelaah dengan mendalam. Namun demikian, seringkali penulisan skenario tidak dapat menyampaikan maksud dari tulisannya karena tidak dimengerti oleh penata kamera maupun editor. Untuk itu, Tips minggu ini adalah “Bagaimana menulis komando kamera atau camera angle yang diinginkan oleh penulis skenario/sutradara terutama untuk produksi MULTI CAMERA”. Camera Commands ini sangat membantu cueing atau director notes pada saat story treatment. Camera commands dibawah ini adalah INTERNATIONA STANDART untuk produksi drama, non drama dan news/sport, ditulis oleh Rod Fairweather dari MTV Europe dalam bukunya: Basic Studio Directing, diedarkan oleh focal press.

Sebagai tambahan, Director Commands dibawah ini digunakan oleh Voice Of AMerica (VOA) dalam setiap produksi studio maupun out-door. Semua directors selalu memberikan catatan dengan bahasa yang sama dibawah ini.

Director Commnds

Big Close Up = BCU
Close Up/Close Shot = CU/CS
Medium Close up = MCU
Mid Shot = MS
Medium Long Shot = MLS
Long Shot = LS
Very Long Shot = VLS
Wide Angle = WA
Low Angle/High Angle = LA/HA
2S = 2-Shot
OTS O/S = Over the Shoulder
Centre/Centre of Frame= C,COF
Zoom In/Zoom Out = Z/I,Z/O
FAVouring = fav
FRAme Left or Right = fr L or R
A/B = As Before

Also

Pan L or R
Tilt up or down
Ped Up/elevate
Ped Down/depress
Crane up or down
Crab L or R
Arc L & R
Track in or out
Focus up/ defocus/ pull focus
Sebagai tambahan istilah Insert pada gambar yang seringkali kita gunakan diIndonesia ternyata tidak dimengerti di Amerika. Istilah yang dipakai untuk Insert adalah B-Roll.

So, apakah komando ini cocok di Indonesia? yang saya tahu setiap stasiun televisi mempunyai commands yang berbeda2x. APakah perlu distandarisasi? Apakah perludisamakan terminologinya? Saya dengar Fakultas Film dan Televisi IKJ sedang akan membuat standarisasi tapi apakah itu perlu?

Menurut saya, ini pengalaman pribadi, kita perlu memakai standart internasional. Kalau tidak, maka kita akan sulit Go Internasional. Tapi ini saran saja……

Good luck, semoga berguna…
Naratama

3 responses so far

Feb 21 2008

Elemen warna dalam seni audio visual

Published by Naratama under Uncategorized

Dalam seni Visual, ada tiga elemen dasar yang palng penting untuk menciptakan sebuah karya visualisasi yang mengekplorasi imajinasi kreatif manusia. Ketiga elemen dasar visual tersebut adalah Color (warna), Shape (bentuk) dan Texture (tekstur). Ketiganya menyatu dalam kombinasi yang diciptakan oleh para Filmmaker dan TVmaker untuk dapat memberikan rasa keindahan bagi penikmatnya/penontonnya.
Nah, dalam industri televisi dan film, elemen Warna seringkali menjadi perdebatan karena warna sangat erat hubungannya dengan referensi, kombinasi dan percampuran. Nah, tips kali ini mencoba mengingatkan kita semua darimana warna dasar untuk Televisi berasal?
Warna putih sebagai Color Reference adalah percampuran antara warna Merah (30%), Hijau (59%) dan Biru (11%). Itulah mengapa “White Balance” dilakukan pada kamera dengan menggunakan objek berwarna putih.Ini terjadi karena sinyal warna putih akan selalu berubah tergantung dari kondisi pencahayaan dan suhu yang berbeda yaitu Day Light atau Tungsten.

Warna Percampuran lain adalah:
Yellow = Red + Green
Magenta= Red + Blue
Cyan = Green + Blue
Sedangkan “the word of RGB (Red, Green, Blue)” juga mempunyai arti. Mengapa kita menyebutnya sebagai RGB? bukan GBR atau BRG? ini ada hubungannya dengan Human Skin Tones dimana warna kulit manusia didominasi oleh elemen warna Red (Merah), lalu Green (Hijau) dan terakhir Blue (Biru). Atau sering dikenal dengan rumus R>G>B. Itulah
mengapa dalam teknik Chroma Key digunakan latar belakang warna biru atau hijau bukan merah. Warna Hitam saat ini telah menjadi “the color of cool”. Hitam adalah warna penegas, pemberontak, klasik, elegan, tanpa kompromi, dan
berbagai sebutan lainnya. Bahkan kedua elemen visual Shape (Bentuk) dan Texture (Teksture)sangat dipengaruhi leh warna hitam. Lihat saja Play Station 2, iPOD, Handphone, Laptop, dsb menjadi lebih indah dengan warna hitam.
Tulisan ini ditulis dari berbagai referensi Create Magazine, Buku2x produksi televisi dan pengetahuan pribadi. Semoga bermanfaat untuk anda.
Salam
Jabat Erat
Naratama - Produser/Sutradara Program TV

No responses yet

Feb 07 2008

Screen Direction on Talk Show

Published by Naratama under Program Televisi

Bikin Talk Show itu mudah? tinggal cari nara sumber, host yang mampu menjadi moderator, blocking multi-camera minimal 3 kamera, switcher, studio, lampu, audio dan skrip serta data yang kuat, maka jadilah produksi talkshow, Mudah?… benarkah?

Saya justru melihat kebalikannya. Memproduksi Talkshow yang entertaining itu lebih sulit daripada membuat Kuis atau Game Show. Bahkan, lebih complicated dibandingkan memproduksi Video Klip. Mengapa? karena tidaklah mudah menghidupkan suasana yang monoton dalam durasi 24 hingga 48 menit. Nara sumber yang kaku, Host yang kelelahan
melempar jokes bahkan set artistik yang monoton, membuat Talk SHow menjadi program yang membosankan. Untuk itu banyak cara menghidupkan talkshow mulai dari penambahan cut-away video, graphics data2x, artistik set yang menarik, musik hingga ke wardrobe yang fashionable. Tapi itu belum jaminan Talk Show akan berhasil. Salah satu kunci utama adalah pada Host/Pembawa Acara yang sesuai dengan tone dan warna Talk Show.
Tukul ditampilkan bergaya ala Farhan, pake jas pake dasi, tapi tetap ndeso. Lha, Farhan mencoba lebih kreatif dan fokus ke target pemirsa yang bukan penonton Tukul. Sementara Larry King, Opprah Winfrey, Barbara Walters dll tetap punya
identitasnya sendiri dan menghidupkan suasana Talk Show karena bakat dan talent yang mereka asah setiap hari.

Satu tips yang bisa digunakan untuk Talk Show adalah Concentrate on Screen Direction. Banyak para Produser dan Sutradara yang tidak memperhatikan betapa pentingnya sebuah Screen Direction dari Host dan Guest Talk. Padahal, teknik ini sangat mudah untuk menambah kekayaan pada visual tanpa mempengaruhi content dari script. Lalu
langkah2x untuk memadukan Screen Direction dengan arah pandang gambar dalam produksi multi kamera adalah:

1. Posisikan blocking kamera tanpa melewati Garis Imajiner.
2. Perhatikan arah pandang penonton dengan memotong sudut blocking 180 derajat.
3. Cut-Away = Expression Shot minimal 3 detik.
4. Selalu memperhatikan emosi lawan bicara pada saat berbincang.
5. Gunakan Creative Shot seperti Over Shoulder, Very Close Up dan Panning.
6. Tag to Monitor, bila ada footages atau video diputar untuk insert atau cut
away,
usahakan Host dan Guest mempunyai arah pandang yang sama pada layar monitor.

Screen Direction ini sebenarnya bukan hal yang baru. Tapi dalam kondisi2x tertentu terutama untuk memproduksi Talk Show yang bisa membosankan, penggunaan Screen Direction yang tepat akan menghidupi Talk Show menjadi lebih enak ditonton.

Good Luck
Salam
Naratama

2 responses so far

Feb 07 2008

Published by Naratama under Uncategorized

Dear all, “Writing Television Sitcoms” adalah buku yang sedang saya baca sana-sini. Ditulis oleh Evan S. Smith yang  menulis sitkom untuk “Cosby Show”, “Home Improvement”, dan Late Night Talk Show yang telah bertahan 20 tahun “Late Night with David Latterman”. Evan juga adalah Dosen/Profesor/Pakar penulisan Naskah TV di Syracuse University yang menulis untuk Paramount Pictures dan 20th century fox (Yang memproduksi Program Fear Factor). Beberapa points saya pikir “oke banget” buat dishare ke temen2x semua di milis ini, siapa tahu ada yang berminat memproduksi sitkom atau program Komedi.

Ini fenomena yang sangat menarik. Keberhasilan BAJAY BAJURI dan EXTRAVAGANZA merupakan terobosan dari SITKOM Televisi yang SCRIPTED. Artinya, komedi dan alur cerita dibangun dengan penulisan skenario yang kuat dan mampu beradaptasi secara periodik. Ini berbeda dengan program LAWAK-SRIMULAT yang mengandalkan kekuatan karakter pribadi untuk membuat lelucon secara improvisasi. Jadi jangan heran kalau kita sering bosan mendengar lawakan yang itu2x juga.

Nah, mudah2xan Tips minggu ini dari Evan S.Smith bisa membantu
mencari jalan membuat SITKOM ala Cosby Show.
Tips dasar “apa yang harus dipersiapkan untuk menulis SITKOM Komedi.
Evan menulis sebagai “Comedy In the Story Premise”, yaitu:

1. Comedy Tension
Sebuah cerita sitkom harus dibangun sejak awal dengan menjembatani setiap segment agar menjadi dapat men”generate comedy tension”

2. Character Mix
Perbenturan karakter yang berbeda akan mendukung bangunan komedi secara mudah dan persuasif. Contohnya: Si Pemarah versus si Penyabar. Si Kutu Buku versus Si Anak Gaul. dsb. Percampuran karakter inilah yang akan mendukung Punching Lines pada setiap adegan.

3. Style Of Comedy
Disini, komedi sebaiknya dibangun berdasarkan (A)genre, (B)tipe komedi (slapstick/kids/family/friendship/school/dsb). Tipe komedi akan menentukan arah dari Jokes yang ingin dibangun. Tipe komedi juga akan menentukan target pemirsa yang ingin diraih. (C) Amount of humor-seberapa banyak adegan2x lucu yang ingin ditampilkan. (D) Consistency
of Humor-bagaimana humor/komedi terbangun dalam cerita secara konsisten dari awal hingga akhir.

4. Casting
Banyak Penulis Skenario yang tidak dilibatkan pada saat Casting dan memilih/menyeleksi pemain SITKOM yang tepat. Biasanya Casting hanya dilakukan oleh Produser, Sutradara dan Casting Director. Ini adalah persepsi yang salah. Justru Penulis Skenario SITKOM harus disertakan dalam Casting sejak awal agar penulisan dapat beradaptasi dengan sifat dan karakater dari pemerannya.

Keempat tips ini, kelihatannya dapat digunakan di SITKOM Indonesia. Namun karena sifat humor Indonesia adalah “Celetukan” dan “Celaan” saya jadi agak ragu, apakah SITKOM di Indonesia bisa dilakukan dengan Scripted? Sitkom seharusnya adalah “acting based on script” bukan “acting based on yourself”. Bajay Bajuri dan Extravaganza sudah
membuktikan Act Based on Script. Tapi apakah pola ini akan terus cocok di masyarakat Indonesia?

Salam
Naratama (Sutradara/Produser Acara TV)

No responses yet

Feb 07 2008

TIPS MENULIS NASKAH SITKOM

Published by Naratama under Penulis Skenario

Dear all, “Writing Television Sitcoms” adalah buku yang sedang saya
baca sana-sini. Ditulis oleh Evan S. Smith yang menulis sitkom
untuk “Cosby Show”, “Home Improvement”, dan Late Night Talk Show yang
telah bertahan 20 tahun “Late Night with David Latterman”. Evan juga
adalah Dosen/Profesor/Pakar penulisan Naskah TV di Syracuse
University yang menulis untuk Paramount Pictures dan 20th century fox
(Yang memproduksi Program Fear Factor). Beberapa points saya
pikir “oke banget” buat dishare ke temen2x semua di milis ini, siapa
tahu ada yang berminat memproduksi sitkom atau program Komedi.

Ini fenomena yang sangat menarik. Keberhasilan BAJAY BAJURI dan
EXTRAVAGANZA merupakan terobosan dari SITKOM Televisi yang SCRIPTED.
Artinya, komedi dan alur cerita dibangun dengan penulisan skenario
yang kuat dan mampu beradaptasi secara periodik. Ini berbeda dengan
program LAWAK-SRIMULAT yang mengandalkan kekuatan karakter pribadi
untuk membuat lelucon secara improvisasi. Jadi jangan heran kalau
kita sering bosan mendengar lawakan yang itu2x juga.

Nah, mudah2xan Tips minggu ini dari Evan S.Smith bisa membantu
mencari jalan membuat SITKOM ala Cosby Show.

Tips dasar “apa yang harus dipersiapkan untuk menulis SITKOM Komedi.
Evan menulis sebagai “Comedy In the Story Premise”, yaitu:

1. Comedy Tension
Sebuah cerita sitkom harus dibangun sejak awal dengan menjembatani
setiap segment agar menjadi dapat men”generate comedy tension”

2. Character Mix
Perbenturan karakter yang berbeda akan mendukung bangunan komedi
secara mudah dan persuasif. Contohnya: Si Pemarah versus si Penyabar.
Si Kutu Buku versus Si Anak Gaul. dsb. Percampuran karakter inilah
yang akan mendukung Punching Lines pada setiap adegan.

3. Style Of Comedy
Disini, komedi sebaiknya dibangun berdasarkan (A)genre, (B)tipe
komedi (slapstick/kids/family/friendship/school/dsb). Tipe komedi
akan menentukan arah dari Jokes yang ingin dibangun. Tipe komedi juga
akan menentukan target pemirsa yang ingin diraih. (C) Amount of humor-
seberapa banyak adegan2x lucu yang ingin ditampilkan. (D) Consistency
of Humor-bagaimana humor/komedi terbangun dalam cerita secara
konsisten dari awal hingga akhir.

4. Casting
Banyak Penulis Skenario yang tidak dilibatkan pada saat Casting dan
memilih/menyeleksi pemain SITKOM yang tepat. Biasanya Casting hanya
dilakukan oleh Produser, Sutradara dan Casting Director. Ini adalah
persepsi yang salah. Justru Penulis Skenario SITKOM harus disertakan
dalam Casting sejak awal agar penulisan dapat beradaptasi dengan
sifat dan karakater dari pemerannya.

Keempat tips ini, kelihatannya dapat digunakan di SITKOM Indonesia.
Namun karena sifat humor Indonesia adalah “Celetukan” dan “Celaan”
saya jadi agak ragu, apakah SITKOM di Indonesia bisa dilakukan dengan
Scripted? Sitkom seharusnya adalah “acting based on script”
bukan “acting based on yourself”. Bajay Bajuri dan Extravaganza sudah
membuktikan Act Based on Script. Tapi apakah pola ini akan terus
cocok di masyarakat Indonesia?

Salam
Naratama (Sutradara/Produser Program TV)

2 responses so far

Feb 03 2008

INFOTAINMEN Tanpa Huruf T

Published by Naratama under Program Televisi

INFOTAINMEN Tanpa Huruf TI wanna produce the Infotainment show!”, ujar saya pada Bill Moore. “What’s that?”, tanya Bill kebingungan. “Well, this is just a regular entertainment show featuring celebrities, Hollywood, movies, lifestyle and all those stuff“, ungkap saya mencoba menjelaskan konsep Infotainment. Dalam hati saya keheranan, “Masak sih orang ini nggak ngerti Infotainment?…“. “That’s not Infotainment. That’s Entertainment News. It’s totally different“, sanggah Bill. “How is that happen? in Indonesia we use to say this show as Infotainment not Entertainment News. Just look at our shows like Kabar-Kabari, Cek & Ricek, Inserts and others“, sanggah saya makin heran. “Yeah, you can call that Infotainment in Indonesia. But in US, we put this as Entertainment News because it has news values on it…“, jelas Bill menutup perdebatan soal Infotainment diantara meeting kreatif produksi mencari format program baru.Tidak puas dengan jawaban Bill yang mantan 25 tahun menjadi Executive Producer di NBC News, saya lalu melakukan “Walking Questions” alias jalan-jalan sambil iseng bertanya sana-sini. Pertanyaannya hanya satu yaitu: Apakah Infotainment sama dengan Entertainment News (atau yang lebih dikenal dengan E-News)?. Jawaban boleh ya atau tidak atau dengan penjelasan atau bebas apa saja. Namanya juga ngobrol sambil riset, jadi bertendensi untuk ngobrol ngalor-ngidul tapi tetap jalur televisi. Pertanyaan ditujukan pada teman-teman produser, kameramen, editor dan jurnalis yang bekerja di industri broadcast di Washington DC. Ini memang bukan riset akademis sekualitas AC Nielsen. Ini juga bukan riset kuantitatif sekelas penulisan disertasi mahasiswa S2 jurusan komunikasi atau broadkast. Ini memang murni riset personal untuk sekedar mengukur terminologi kata Infotainmen dalam format produksi Magazine Show di Indonesia. “Jangan-jangan selama ini saya salah menggunakan kata Infotainment?“, pikir saya.Hasilnya, cukup mengejutkan. Ternyata kata Infotainment memang tidak populer. Yang populer adalah Entertainment News. Mengapa? hampir semua responden menjawab bahwa format acara majalah televisi yang mengungkap kehidupan selebriti, gosip artis hingga kisah-kisah kawin cerai mempunyai unsur dimensi aktual dan faktual. Untuk itu, keseimbangan isi berita harus dan perlu didukung dengan berbagai akurasi data, pendapat, komentar hingga ke opini publik lewat wawancara Vox Pop. Ini sangat bertolak belakang dengan konsep program acara Infotainment yang justru tidak memerlukan adanya dimensi aktual dan faktual. Bagi industri televisi Amerika, format majalah Infotainment justru berkesan satu arah/satu jalur/satu tujuan walaupun disajikan dengan format kemasan gaya hiburan baik dari sudut penulisan naskah, reportase hingga ke set-artistik backdrop, namun isi dari format acara ini hanyalah menyajikan sebuah infomasi tentang suatu produk atau suatu penjelasan. Tidak ada unsur jurnalistik dibalik Infotainment.Contoh program Infotainment adalah program masak-memasak berisikan informasi tentang cara memasak. Mulai dari menu, bahan masakan hingga teknik menggoreng. Contoh lain, program agama tertentu yang berisikan informasi tentang features realita kehidupan hingga ke diskusi tentang kebaikan hidup didunia. Di televisi kabel Amerika Serikat, puluhan saluran berada dijalur Infotainment ini mulai dari Book Channel (24 jam membedah puluhan judul buku), History Channel (khusus Sejarah), Food Channel (semua tentang makanan), Fashion Channel (dunia fashion), dan puluhan lainnya. Di saluran inilah semua format Infotainment beradu kreatifitas. Bukan hanya lewat jalur format Majalah tapi sudah masuk ke rimba Talk Show, Variety Show hingga ke Reality Show. Dan semuanya dikemas secara non-fiksi tanpa mengikuti aturan dimensi Aktual dan Faktual. Tanpa harus ada keseimbangan isi berita. Namanya saja sudah informasi, walau disajikan terlambat tetap saja sebuah informasi.Kembali ke bumi pertiwi. Ternyata pengertian format Infotainment itu bukan acara memasak atau bedah buku. Pengertian format Infotainment justru sama dengan kata Entertainment News. Dari segi rundown, artistic, scenario, editing style, dan content, tidak ada perbedaan antara Infotainment dan Entertainment News. Lihat saja gaya E News ala CNN, ada lagi Entertainment Tonight ala Fox,  dan yang juga heboh The Insider model CBS. Semuanya mirip dengan Silet, Hot Shot, Kabar-Kabari dan sebangsanya. Kalaupun beda hanya sedikit yaitu Host di Infotainment Indonesia biasanya selalu muda, cantik, sensual dan berwajah “kinclong” walaupun presentasinya datar2x saja. Toh, publik menyukai isinya bukan Hostnya.  Sementara di Amerika, banyak penyiar gaek yang masih bertahan dilayar kaca entertainment. Lihat saja Pat O Brien di CBS yang usianya diatas 40 tahun. Atau Dirk Clark yang  usianya diatas 60 tahun tapi menjadi langganan tetap program khusus Entertainment di akhir tahun.Sambil merenung dan menulis, saya jadi berpikir. Kalau pengertian format program Infotainment sama dengan program Entertainment News, “Jadi kalau ditanya Bill Moore, saya jawab apa ya?”. Iseng2x saya browsing ke internet. Lalu saya klik “i..n..f..o..t..a..i..n..m..e..n” , entah kenapa saya lupa menambahkan huruf T diakhir kata. Lalu klik! Ya ampun, semua tulisan berita di media cetak Indonesia menggunakan kata infotainmen bukan infotainment! Nggak ada yang pakai huruf T! Nah, ini dia solusinya. Kalau si Bill bertanya lagi pada saya, saya jawab saja “Well, in Indonesia we say Infotainmen without T”. Pasti si Bill bingung.

Naratama  (Sutradara/Produser Program TV)

 

One response so far

Jan 31 2008

DANCE WAR! Reality show baru ala BBC!

Published by Naratama under Uncategorized

BBC, stasiun TV publik Inggris menggebrak dunia entertainment
Amerika. Produksi BBC Amerika yaitu DANCE WAR, tayang di stasiun ABC
dan mampu menggebrak pasar rating TV yang sedang goncang akibat
menghilangnya sejumlah Drama Series seperti Heroes, CSI dan Bionic
Woman. Saluran TV Amerika memang sedang terpuruk karena arus
boikot “Writer Strike” masih berkepanjangan. Bahkan, dalam piala
OSCAR, ada kemungkinan diboikot para penulis skenario yang menolak
menerima piala untuk kategori penulis terbaik ala Oscar.

Keberanian BBC menggelar reality competition show yang mengadu
kepiawaian dua profesional koreografer Bruno Tonioli (sukses sebagai
juri Dancing with the STars) dan Carrie Ann Inaba. Mereka melatih
tim penari yang baru muncul dan siap bertarung dihadapan publik.
Jurinya? masih SMS. Dan bila kalah, maka jumlah penari harus
dikurangi…. ini yang membuat kreator Dance War menjadi unik dan
brilliant…

Eksekutif Produser program ini adalah John Hesling, yang kawakan
memproduksi Reality Show “One Week To Save Your Marriage”. Hesling
mampu menerobos kebekuan Reality Show yang belakangan ini cenderung
monoton,membosankan dan mudah ditebak. Dan DANCE WAR diperhitungkan
akan sukses menyaingi “A SHot At Love With Tila Tequila” di MTV.
Tila Tequila bercerita tentang Tila yang bisexual, memilih calon
pacar lelaki atau perempuan. Amerika memang baru saja
dilanda “Bisexual Shock TV” dengan Tila…. dan sekarang Amerika
sibuk berdansa lewat DANCE WAR…

BBC memang bagus. Walau berorientasi publik, BBC mampu membangun
nilai komersial melalui produksi non-news yang semakin mapan…

Salam
Naratama

One response so far

Jan 22 2008

Tips Minggu Ini: The Background Light

Published by Naratama under Tips & Trick

(Lokasi indoor).
Posisi wawancara dengan seorang narasumber yang duduk didepan pojok ruangan sudah diset. Three Points Lighting sudah diatur sesuai kebutuhan. Harap diingat, “Lighting is about controlling shadow”, jadi kalau bayangan sudah tidak lagi mengganggu, apa yang harus dilakukan?
The Background Light! ya, ini harus dilakukan. Mengapa? simpel saja, jarak antara objek dengan ruang setting background akan menjadi gelap karena arah cahaya dari The Three Points Lighting hanya untuk kepentingan sang objek. Nah, untuk itu, background set yang sesungguhnya memberikan informasi artistik pada objek perlu cahaya.
Disinilah, kita harus kreatif memilih jenis lampu fresnel atau dedolight atau lainnya sesuai dengan kebutuhan. Gunakan bandoor untuk memberikan aksen cahaya, juga dimmer untuk kekuatan cahaya dan flood untuk bias cahaya. Pakai juga warna2x filter baik untuk daylight maupun tungsten.
Jadi kalau ditanya, bagaimanakah dasar pencahayaan? jawabnya bukan “three points lighting” tapi “three points lighting plus one background light”….
Salam
Naratama

No responses yet

Jan 15 2008

Televisi Jaringan Akan Rugikan TV Swasta ?

Published by Naratama under TV Berjaringan

Setelah membaca berbagai artikel tentang pro-kontra adanya penundaan penerapan sistem stasiun jaringan ini hingga 28 Desember 2009, saya melihat benang sistem penyiaran industri tv kita memang telah benar-benar kusut. Semuanya punya kebenaran dan kekurangan masing-masing. Sementara DPR dan Pemerintah semakin sibuk mencari media yang bisa dikompromi untuk tujuan politik, pra pemilu.Kalau sudah begini, benang kusut semakin ruwet.

Continue Reading »

2 responses so far

Next »